Setelah lamanya menabung untuk merealisasikan salah satu wacana pada waktu itu, akhirnya satu point berhasil dicoret dengan sukses. Ada beberapa squence perjalanan ‘modal nekat’ yang benar-benar membuka mata. Salah satunya adalah pengalaman bermalam di KLIA sendiri meninggalkan memori yg masih dan akan terus teringat. Was-was, takut, antusias, semua perasaan campur aduk tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Dua bandara MLY, klia dan klia2 memang terkoneksi dengan amat sangat baik. Begitu mendarat di klia 2, sangat mudah untuk menuju klia. Melalui klia transit kita bisa ke klia 2 ke klia (atau sebaliknya) hanya dengan membeli tiket sebesar 2RM (ada tempat untuk membeli karcis, tinggal sering-sering baca aja petunjuk arahnya). Dalam karcis kertas terdapat barcode yang nantinya akan kita scan ketika hendak masuk ke area tunggu kereta. Dari klia 2 ke klia hanya butuh sekitar 3-5 menit. Bagi yang ingin menuju KL sentral kita juga bisa pilih KLIA Express sekitar 40RM *cmiiw lupa. Keberadaan kereta itu sudah dibuat jalur untuk memudahkan mobilitas para penggunanya. Sungguh terintegrasi dengan baik. Semoga semua bandara di Indonesia secepatnya nyusul. AAMIIN. Selain itu ada juga bus atau taxi. Namun terasa kurang efisien jika dibandingkan dengan kereta. Alasan lain untuk bus atau taxi, kita juga perlu mempertimbangkan tarifnya :P 

Di KLIA, petunjuk arah memang sudah banyak dan cukup jelas. Karena bandaranya luas, semua orang yang baru pertama kali mungkin merasa tersesat bahkan tidak tau sebenarnya ada di lantai berapa. Tapi Alhamdulillah tanda petunjuk arah dan para petugas keamanan bisa dilihat dimana-mana. Sangat-sangat membantu. Sepanjang mata memandang banyak yang datang rombongan, tak sedikit pula sendirian ala backpackeran. Menjelang petang, mereka yang hendak bermalam siap-siap mencari spot untuk beristirahat. Nah di sini kadang kita perlu sedikit lebih cepat agar tidak keduluan yang lain. Terlebih sisi dekat kaca gardu pandang. Konon katanya spot sekitaran sono adalah tempat favorit untuk melepas penat. Tidur menghadap kaca sehingga membelakangi keriuhan dalam bandara, juga terasa lebih nyaman karena orang lain tak bisa melihat rupa kita saat pulas J) selain itu, deretan bangku sekitaran konter check in juga bisa menjadi alternatif untuk bobok sejenak. Sebenarnya di klia banyak sekali spot untuk bermalam, hanya saja rame atau tidak adalah hal yang perlu dipertimbangkan. Balik lagi pada kenyamanan pribadi.

Beberapa ada yang bilang,tidur yang nyaman di mushola klia. Tapi bingung juga sih mushola yg sebelah mana hahaha. Di keberangkatan int ada satu mushola dan itu tutup dari jam 00.00-5.00. jam 6anlah baru dibuka oleh petugas karena sudah memasuki waktu subuh. Sehabis subuh, hal simple menenangkan adalah duduk di gardu pandang dengan segelas minuman panas, melihat lalu-lalang pesawat dari gardu pandang :')

 

 

#superduperlatepost