Cekrek-cekrek lalu kirim, apakah alay?


Ngobrol sama teman lama setelah pulang nganterin dari kampusnya buat ngurus sesuatu. Sebut saja teman ini bernama A. Lalu tak disangka kami ngomong-ngomong tentang salah satu fenomena cekrekcekrek. Temenku ini dulunya juga pernah  ngerasain 'jarak' antarpulau. Dia taulah rasanya. Tanpa bermaksud nyinggung siapapun tiba-tiba A bilang, '' kadang liat orang moto sesuatu buat kabarin ke doi, jadi pengen  juga kayak gitu meskipun dibilang alay''. 

-jadi inget sesuatu-

HAHAHA. Emang sih alay, tapi menanggapi itu aku yoben yoben aja :') ane termasuk orang yg sering foto sesuatu (nggak semua sih tapi cukup sering) buat 'laporan' atau sebatas kasih untuk 'belajar'. Karena dari foto itu akan ada banyak topik baru yg bisa dibahas. Lalu kita akan cari tau, lama-lama familiar. Bahkan menurutku, justru cekrek cekrek kirim itu malah jadi media penting untuk saling belajar mengenai hal-hal baru atau mengingatkan - terus menerus- hingga sesuatu itu jadi akrab dengan kita. Kadang nggak hanya buat belajar, tapi lebih dari itu. Inilah deritanya 'jarak' yg menimbulkan orang lain menutup sebelah mata dan mengambil kesimpulan pada keadaan mayoritas yg lebih besar. IYKWIM. Mungkin beda cerita dengan orang-orang yg tiap hari ketemu, main bareng, udah ngerti semua tetek bengek apapun di sekitarnya. Mereka tak perlu repot repot lakukan itu karena tak ada gunanya. Toh sudah tau. Kembali lagi ke motif orang yg beda-beda. Ada yg foto-foto buat narsis kekinian, pamer di sosmed, eksis atau yg lainnya. Ya memang sah sah aja sih, pilihan mereka.

Pilihan motret sesuatu, bahkan share lokasi bagi pribadi memang sudah jadi hal biasa. Kadang alay kalo dipikir. Lalu apa arti alay dibanding komitmen, kesepakatan dan kesepahaman? Disadari atau tidak dinamisasi hubungan jutru 'dibantu' dari hal-hal alay itu. Serius. Nggak semua orang bisa menerima ini. Tapi kalo mereka memposisikan diri pada situasi keadaan semua serba serupa, sepertinya mereka akan melakukan hal yang sama. Sesibuk-sibuknya orang, sepenting-pentingnya orang, sekeren-kerennya orang pasti ada saatnya alay demikian. Tergantung individu sih iya, tapi seringnya apa yg kita anggap biasa justru alay buat orang lain, begitu pula sebaliknya, yang nampak alay di kita justru biasa di mereka.

Kadar alay orang memang tergantung bagaimana situasi yg dihadapkan dan usaha untuk melebur segala problematika yg ada. Jika dengan cekrek-cekrek kirim bisa membantu ke arah yg lebih baik, mengurangi kesalahpahaman dan permasalahan, bahkan mengenal dan merekatkan dua isi kepala yg berbeda sehingga saling mengerti serta memahami, toh it's fine aja.