Sore itu..

Tamu kami yang sudah beberapa hari berkunjung ke Indonesia ini bersiap pulang. Beberapa anggota keluarga hendak ikut mengantar ke bandara. Sayang sekali, perhitungan waktu kami meleset yang bisa dibilang berakibat fatal. Hari minggu adalah hari yang amat sangat padat. Jalanan semrawut merayap, sehingga butuh kesabaran ditengah keadaan berkecamuk bercampuran. Menaiki roda empat tak selalu nikmat. Kami tak bisa menerobos seperti biasa kala beroda dua dan harus benar-benar menghabiskan waktu terkurung di tengah kemacetan parah. Gelisah, pikiran macam-macam. Ingin rasanya keluar lari bergerak mengejar waktu, tapi apa daya tak bisa. Firasat sudah buruk bahwa jadwal keberangkatan tak akan terkejar. Masih optimis karena biasa konter check in ditutup 45 menit atau bahkan 35 menit (kalo masih antre) sebelum pemberangkatan pesawat. Tepat 45 menit sebelum jadwal berangkat, tamu kami masuk, check barang dan melalui antrian. Sedih ketika tau konter check-in sudah tidak menerima lagi. Pengeras suara menegaskan panggilan pertama untuk penumpang maskapai terkait segera masuk boarding room.  Hanya berjarak sekat dinding dari boarding room, tapi tidak bisa masuk karena tidak bisa check in lagi. Hanya berselisih beberapa menit, terdengar panggilan kedua. Antre dan menunggu adalah cobaan saat itu. Salah diperhitungan. Kami pikir akan seperti biasa seperti sebelumnya. Sedihnya... tertinggal pesawat dimana pesawatnya belum terbang dan penumpangnya belum juga boarding ke pesawat.

Raut muka tak percaya keluar dari ruang keberangkatan internasional. Dia menceritakan beberapa inti apa yang terjadi di dalam dan pesan yang disampaikan dari pihak maskapai. Tak apa, saatnya kita membuat rencana dan mengatur jadwal yang terbengkalai. Masalah baru muncul di pikiran soal izin cuti yang sudah diurus namun kenyataan tak sesuai harapan. Sebenernya memang masalah pekerjaan dan izinnya yang terlalu kami khawatirkan. Setelah tamu kami menelepon beberapa pihak mengenai situasinya, Alhamdulillah ada sedikit kelegaan. Pihak kantor dimana ia bekerja memberi kelonggaran atas kejadian dadakan yang tidak mengenakkan ini. Bersamaan dengan itu, seorang teman dari negaranya mencoba membantu menghubungi agen penjual tiket, sayangnya hari Minggu rasanya benar-benar kurang menguntungkan. Gagal berangkat ke Singapura, otomatis tiket penerbangan malam menuju negara tujuan juga batal karena tiket yang dibeli ‘sepaket’ dalam artian langsung bersambungan. Bergelut dengan keadaan, satu per satu artikel yang berisi informasi terkait kami coba pahami. Check harga tiket dadakan harganya selangit. Kami kirim pesan by email dan whatsapp pada anak buah maskapai yang kontaknya tercantum dalam situs internet namun tak ada tanggapan. Keputusan menelepon pihak maskapai utama menguji kesabaran. Antrian telepon lama. Mengisi pulsa, telpon, dan hasilnya sama seperti apa yang dikatakan pihak maskapai di bandara. Baiklah, tak ada cara lain. Memang kami harus menunggu esok hari untuk mendapat kepastian.

Esoknya kami datang ke kantor anak maskapai yang ada di Jogjakarta. Petugas wanita itu sama dengan yang ada di bandara kemarin, yang menjelaskan dan memberi tahu untuk mengurusnya di tempat ini. Beliau sudah mengerti kedatangan kami, dan mempersilahkan menunggu. Setelah beberapa lama, ditunjukkanlah nominal yang harus dibayar, kurang dari separo nominal harga tiket yang hangus. Antara bersyukur nggak perlu cari tiket baru lagi (yang harganya mehong berlipat karena h-1 dadakan) tapi nyesel juga karena mesti bayar uang yang nggak direncanakan. Okeee dijadikan pelajaran, lain kali nggak mau lagi. Akhirnya dapat titik terang, besok paginya bisa pulang.

 

Hari berikutnya, kami seakan mengulangi waktu yang sama namun beda cerita. Semua berjalan seperti yang seharusnya. Pagi haru dengan pengalaman baru…namun ternyata yang sebelumnya tak terkejar, penerbangan kali ini delay sekitar dua jam :)