Belasan sampai puluhan ribu tes mulai dilakukan setiap hari, hingga hasilnya ribuan kasus baru juga diumumkan setiap hari. Sampai dengan saat ini (10 April malam), sudah dilakukan tes sebanyak 307.210 di penjuru Turki, 47.029 kasus positif, 1.006 meninggal dan 2.423 dinyatakan sembuh. Rincian dan detail bisa diakses di situs pemerintah berikut ini https://covid19.saglik.gov.tr/.

Sebelum menyatakan kasus pertamanya, Pemerintah Turki sudah ancang-ancang mengambil beberapa langkah. Begitu kasus covid19 sampai di Turki, pemerintah mengambil gerakan cepat tanggap. Sehari setelah kasus pertama menjangkit Turki, beberapa Universitas mengumumkan kebijakan elearning dari rumah. Besoknya, tepatnya hari Kamis 12 Maret 2020 malam diumumkan bahwa sampai akhir Maret (diperpanjang sampai akhir April) belajar dilakukan dari rumah secara online. Besoknya lagi, armada kebersihan mulai diturunkan secara intensif. Sekolah, kantor dan ruang publik disterilkan disemprot desinfektan. Petugas mengecek ketersediaan produk di beberapa market untuk memastikan. Tong-tong sampah di jalan dekat rumah disikat pakai sabun. Himbauan untuk kerja dari rumah juga mulai digiarkan meskipun masih banyak yang tetap harus ke kantor setiap harinya. Transportasi umum masih cukup ramai.

Ribuan jamaah yang pulang dari umroh dikarantina di Kota Sakarya. Beberapa penumpang dari negara-negara beresiko juga dikarantina. Masjid-masjid tetap buka tapi tidak ada sholat berjamaah, termasuk sholat jumat. Tiap malam dari pengeras suara masjid, dilantunkan sela dan doa-doa. Menjelang akhir Maret, banyak penerbangan mulai diberhentikan hingga sampai semua penerbangan internasional benar-benar tutup total.

Beberapa kebijakan Turki dalam sebulan terakhir yang cukup mendapat banyak perhatian serius dari penduduknya. Salah satunya adalah soal larangan keluar rumah bagi lansia yang berumur 65 tahun ke atas dan denda sebanyak 3.150tl (sekitar 7,8juta) bagi yang kedapatan melanggar. Sebagai solusinya, pemerintah menyediakan servis jasa titip dan belikan makanan dari market terdekat. Servis khusus untuk lansia ini cukup dengan telpon ke ALO 112-155-156. Aparat keamanan Turki seperti Zabita, Jandarma, Polisi turun membantu para lansia ‘delivery’ titipan barang belanjaan ke rumah-rumah. Meskipun begitu, tidak semua mengikuti arahan pemerintah. Banyak yang masih keluyuran ke jalan-jalan, duduk-duduk di taman, nge-cay (ngeteh) bareng teman, dll. Ada juga para lansia yang sengaja keluar dengan alasan mau ke pasar padahal memang karena bosan dan sulit untuk tetap tinggal di dalam rumah. Para lansia di Turki memang suka jalan-jalan mencari hawa udara segar. Namun adanya larangan, lumayan banyak berkurang.

Sejak awal pemerintah Turki juga menghimbau warga untuk menjauhi keramaian. Dikarenakan masih banyak yang menganggap semua masih normal, akhirnya bioskop, kafe, bar, dan ratusan mall tutup sementara. Market-market terus ramai pengunjung yang ingin membeli kebutuhan harian. Mereka juga kewalahan menyiapkan orderan online. Pesanan bahkan menumpuk sampai full untuk beberapa ke depan. Beberapa industri berbelok arah membuka online market untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Beberapa hari yang lalu, turki memberlakukan beberapa kebijakan baru. 31 kota ditutup akses keluar masuknya. Masyarakat berusia 20 tahun ke bawah dilarang untuk keluar rumah, serta kewajiban memakai masker bagi penduduk yang keluar untuk urusan penting. Tidak lama berselang, ada pemblokiran ke beberapa situs jual beli masker. Pemerintah melarang penjualan masker (kalau dibagi gratis boleh). Solusinya akan dibagikan masker untuk masyarakat sebanyak 5 buah per orang per minggunya dengan cara mendaftar di sistem, lalu masker akan dikirim langsung ke rumah lewat pos. Untuk informasi terakhir, masker tidak jadi dikirim ke rumah tapi diambil di apotek.

Jumlah kasus yang terus bertambah, Pemerintah Turki berupaya membuka rumah sakit dadakan, rujukan khusus untuk kasus covid19. Rumah sakit yang dimaksud itu memanfaatkan bandara lama di Istanbul yaitu Bandara Ataturk dan Bandara Samandra. Rencananya kedua ‘rumah sakit’ dadakan akan dibuka secepatnya, sekitar bulan Mei.

Selain itu, karena banyak kasus PHK di saat corona, kemarin Pemerintah Turki menyampaikan larangan PHK bagi kantor atau perusahaan untuk tiga bulan ke depan di tengah pandemic ini. Karyawan-karyawan yang terpaksa harus dirumahkan sementara tidak boleh diputus hubungan kerja. Bagi yang sudah terlanjur diPHK rencananya Pemerintah Turki akan memberi bantuan 39,2tl per hari. Bagaimana realisasinya?  benar atau tidak? kita lihat saja ke depannya.

 

 

 

 

Nb : di luar pro dan kontra Pemerintah Turki, saya hanya melihat apa yang terjadi di sini. Kalau baik saya bilang baik, kalo tidak saya bilang tidak. Tulisan ini ditulis tanpa ada sangkut pautnya dengan politik. Terima kasih.