#MUTLULUCKSTORY

Kutengok jam, masih pukul satu. Aku melihat sekeliling dan duduk sejenak. Seorang bapak pengemudi taksi yang sedang mencari penumpang mendekat menghampiriku. Kami terlibat percakapan singkat. Setelah itu kulanjutkan berjalan menuju terminal keberangkatan tidak jauh dari tempat itu. Terlihat banyak sekali calon penumpang yang harus menunggu sama sepertiku. Sendiri… ya tak apa, aku memang sudah terbiasa. Perasaan bercampur aduk karena melakukan perjalanan jauh pertama kali seorang diri. Kucoba memberanikan diri dalam setiap kesempatan yang cukup membingungkan. Sebelumnya hanya berpedoman membaca beberapa artikel dan blog, namun ternyata tidak segampang yang dibayangkan. Bermodal tanya-tanya bahkan pekerja bandara pun sempat kebingungan, aku pun berkenalan dengan anak Magelang yang bekerja di Malaysia. Yaps boarding time… perasaan itu  datang lagi. Sekelumit pertanyaan melintas kembali.

Dua setengah jam berada di udara. Alhamdulillah mendarat dengan selamat. Antrian imigrasi KL sangat gila. Hampir dua jam berada di antara manusia yang mengular demi bubuhan stampel. Bapak  petugas mulai memeriksa paspor dan menanyaiku, Bapak petugas dengan aksen melayu ini cukup sengak dan terlihat kurang ramah. Badan letih lapar tapi masih bisa dipaksakan. Kunikmati bandara KLIA 2 ini. Penunjuk arah sangat membantu hingga aku mengelilingi beberapa tempat yang sama. Capek sudah di badan ini, lalu aku pun berpikir apa yang bisa kulakukan selanjutnya. Ingin sekali ke KLCC, tapi aku rasa itu ide gila. Ya, aku harus segera ke KLIA, paling tidak untuk mengumpulkan sisa-sisa tenaga di sana. Setelah kebingungan-kebingungan yang kesekian kali, aku pun membeli tiket kereta yang munghubungan kedua bandara ini. Dalam waktu yang cukup singkat, aku sudah berada di KLIA. Masalah timbul lagi. Bandara ini besar, cukup kesulitan menemukan tempat dimana aku seharusnya berada. Akhirnya sampailah di tempat itu. Aku bergegas ke pusat informasi untuk menanyakan beberapa hal. Mencerna jawaban dalam bahasa melayu pun butuh waktu. Beberapa kata sempat tidak kumengerti dan perlu ditanyakan untuk yang kedua kali. Akhirnya, aku sudah berada di sini. Tubuh sangat lelah, tapi aku memutuskan untuk berkeliling dengan koper dan ransel yang selalu kubawa. Misi utama mengelilingi area keberangkatan internasional itu adalah ‘colokan listrik’  dan tempat untuk merebahkan badan. Beberapa orang sudah memilih spot untuk tidur. Di mushola, sebenarnya aku pikir tempat yang paling nyaman untuk tidur. Tapi mustahil, mana mungkin. Sebelum tengah malam, aku kembali ke ruang tunggu. Di bangku itu, dua orang perempuan sudah asik ke alam mimpi. Aku memutuskan duduk disebelahnya. Kupandang sekeliling, banyak keluarga perlahan mulai terlelap. Kuakui sulit sekali memejamkan mata hingga aku paksakan untuk tidur dan bangun setiap 10 menit. Ya, aku tidak bisa tidur dengan nyaman tapi -paling tidak- aku harus kembali bertenaga di esok hari.

Malam berlalu, pagi menjelang datang. Air sangat dingin, sama seperti suhu bandara yang memang menusuk kuku-kuku jari. Perut meminta makan sejak saat mendarat, namun masih enggan. Wifi bandara yang terkadang muncul hilang sangat menyebalkan, namun waktu berjalan cepat hingga saatnya check in. Selesai check in, aku buru-buru mengantri di imigrasi yang sudah mengular. Kuamati keadaan sekitar… sungguh manusia manusia di sekitarku menyadarkanku bagaimana hingar-bingar kehidupan ini. Mengantrı di samping barisan, seorang lelaki dengan mp3 menyanyi bahasa arab (sejujurnya aku tidak tau dia menyanyi atau murotal). Orang-orang menoleh, sebagian berbisik melihatnya bernyanyi cuek dengan suara keras. Di sebelahnya, gerombolan anak-anak berwajah India tengah bercanda dan tertawa. Obrolannya terdengar jelas bahkan orang-orang juga turut menyimak.

Hmmm… Menunggu boarding, kududuk disamping wanita berambut pirang ini. Yap, dia sibuk dengan telepon genggamnya. Kulanjutkan membaca buku yang kubawa dari rumah. seorang laki-laki mondar mandir bingung memilih kursi untuk duduk. Ia pun bergabung bersama kami. Obrolan dibuka olehnya..

“hai.. kalian juga akan ke Turki?”, dia memulai.

“ya..” jawab kami. Kami pun terbawa pada percakapan yang lumayan panjang, menceritakan sekelumit persoalan negara masing-masing dan tujuan datang ke Turki. Ada yang karena bisnis, urusan keluarga, keperluan suatu hal di musim panas, seminar+pelatihan, dan lainnya. Kami berpisah menuju kursi masing-masing.

Di dalam pesawat awalnya aku duduk dengan seorang penumpang lain di samping. Tapi Alhamdulillah pesawat tidak penuh dan aku bisa duduk sendiri. Duduk sendiri cukup senang dan bebas tanpa merasa sungkan. Hiburan multimedia TK cukup banyak. Kuhabiskan beberapa jam pertamaku untuk mendengarkan musik dan menonton film. Tidak lupa juga, aku charge handphone yang sudah mulai low ini. Setelah kenyang, ingin sekali rasanya tidur. 12 jam berada di udara, pastinya tidak mungkin kuhabiskan hanya dengan film-film ini. Aku butuh mengganti jam tidurku yang mana tidak kumanfaatkan sebelumnya di bandara. Namun di pesawat, tidak mudah untuk memejamkan mata. 

Turbulensi sedikit kencang terjadi saat melewati India tapi Alhamdulillah, masih termasuk ringan. Melewati udara negeri Persia dan Emirates Arab sepertinya hanya dalam mimpi. Ketika akan mendarat, aku begitu terkesima melihat bentang alam di depan mata. Selat bosphorus dengan jembatannya begitu nyata. Kulihat stadion besiktas dari atas, dan landasan udara Ataturk dari kejauhan. Touched down !

 

Yogyakarta, xx Juli 16.