Malam minggu.

Biasanya orang-orang menanti sabtu malam alias malam minggu. Sebagai hari yang banyak ditunggu, entah ada janji hangout kek, kulineran, futsalan, ngeband, atau sekedar keluar cari angin malam. Di jalan, banyak orang-orang tampil semodis mungkin untuk melawati malam yang katanya menyenangkan ini. Yang cowok siap dengan kendaraan full bensin dan tak lupa minyak rambut biar licin dan parfum semprot agar kelihatan lebih keren, juga cewek yg siap dengan dandanan serta pakaian yang siap untuk ootdan. Yap, lalu lintas petang terlihat padat dari hari-hari biasa. Seakan hari sabtu malam adalah hari sibuk bagi anak muda.

Aku termangu di depan layar komputer. Pikiranku kembali ke masa lalu. Sudah lama tak kurasakan bagaimana suasana sabtu malam. Beberapa tahun yang lalu, aku cukup sering keluar di malam ini bersama teman-teman cewek meskipun untuk hal-hal yang tidak jelas. Datang ke event budaya di pusat kota, cari hadiah, makan, cuci mata, nobar, ngelive di lapangan, atau lebih seringnya ngerumpi di rumah teman membicarakan gosip di anak sekolahan. Yaps, itu dulu. Lain dulu lain sekarang. Dalam hati aku berkata, « dulu, aku yang sedikit-demi sedikit berhasil terbuka pada teman-teman. Aku berhasil merasakan hidup normal tanpa beban, tanpa perasaan tidak enak dan sungkan. Dulu, aku memang pemalu tapi orang sekitar membuatku bisa melupakan itu. Bahkan tujuan ke sekolah dengan motivasi bertemu teman=teman dan mendengarkan cerita yang belum terselesaikan. Sungguh senang”. Lalu semua berubah setelah semua berpisah. Intensitas bertemu tak mesti kapan. Obrolan tak seheboh yang diangan.

Aku tau aku tak boleh membandingkan. Dulu ataupun sekarang. Aku tak bisa menyalahkan keadaan. Aku salah. Aku tak bisa menerima kenyataan. Tapi, aku tak nyaman dengan senyum manis di depan dan omongan lain di belakang. Ya, tapi Ini pilihan, paling tidak harus kutuntaskan.

Kembali ke malam minggu, aku tak antusias pergi keluar. Aku cukup enjoy dengan computer juga tulisan-tulisan dan kolom di layar. Rutinitas tiap malam yang hampir selalu sama. Mengejar setoran dan mencoret list satu per satu. Kuhidupkan playlist musik yang cukup bisa menemani malamku. Sesekali pesan chat masuk dan kubalas satu per satu. Terkadang semua mengalir begitu saja. Tak jarang tiba-tiba buyar entah apa yang kupikirkan. Lalu panggilan datang dari tepi marmara dan aku harus terus melanjutkan semua yang ada di monitor ini sebentar lagi. Tidak lama kemudian, aku bereskan dulu semua. Akan kulanjutkan besok pagi. Cukup sekian malam minggu di depan layar.