Akhirnya sampai juga di Çanakkale! Aihhh rasanya sudah tidak sabar lagi menjumpai teka-teki kota ini lebih dalam lagi. Hmm kami sampai di sini masih terlalu pagi. Ditemani deburan ombak kecil-kecil dengan gemuruh terjangan angin membuat musim panas serasa tak berbekas. Ya, musim panas pagi hari di tepian laut rasanya cukup dingin. Tak ada yang bisa kami lakukan. Hanya menatapi kesyahduan sekitar, mentari yang malu-malu berwarna keorenan, burung-burung hilir mudik melintasi langit Aagean1, kapal-kapal di tepian, resto-resto yang masih terlihat tutup, serta penduduknya yang tengah santai bercengkrama dan tertawa lepas dalam obrolan mereka.

Oh terlalu pagi memang. Lalu apa yang harus kita lakukan? Kami putuskan untuk mencari sarapan. Dalam bayangan penjual soto dan bubur ayam bertebaran di sepanjang jalan. Bangunlah bangun! Sepanjang mata tak kami jumpai penjual apa saja. Bahkan penjual simit2 pun belum terlihat. Selagi menunggu waktu, kami benar-benar sibuk terdiam dengan imajinasi di tepian hamparan laut biru. Hal yang tak bisa dijelaskan dan diungkapkan dengan kata-kata. Tak pernah terbayangkan, bagaimana harmoni alam yang sulit terlukiskan terasa begitu kental menyatu dalam diri. Dan dari situlah aku sadar, seberat-beratnya masalah hendaklah ada jalan. Jarak bukanlah halangan. Suatu kesedihan akan terbalas berjuta senyuman. Masih ada harapan. Kebahagiaan tak datang dari satu pintu, hanya masalah waktu.

Untuk kali ini kami bergegas mencari makan dan berjalan cukup jauh. Akhirnya kami menemukan 'warung' yang buka dan ramai oleh pembeli. Abla Abi HORRAY!!! Tapi kami tak ingin makan di tempat karena tepian laut menanti. Cus! Sampai di tempat semula, rupanya pentingnya çay3 (re:teh) tak bisa dihilangkan sejenak. Menunggu di sebuah restoran tepi pantai namun kesabaran kami ternyata masih berbatas alias kami tidak sabar menunggu tanpa kepastian. Walhasil Alhamdulillah sebuah tempat di pojokan sudah buka! Kami pun cepat-cepat memesan teh sambil menjinjing tas kresek berisi simit dan poğaça4 yang barusan kami beli. Its okeeee. Pahitnya teh Turki di pagi hari amat sangat ‘nyegrak’ dan cukup bertahan lama di lidah. Segelas kecil dengan dua balok gula kecil-kecil seakan tak berimbang bahkan hingga ‘mengambil’ jatah orang. Beginilah lidah yang selalu bermanis manja, empat atau enam balok gula masih kuat tajam teh itu rasanya. Bandingkan dengan mereka yang bahkan tak perlu gula pun sudah jangan ditanya. Satu hal, çay+simit+poğaça+laut+you=perfection! Benar-benar kebahagiaan yang hqq !!!

“gimana? lanjut jalan?perjalanan masih cukup lama”, tawarnya dengan harap.

“jalan lagi? Okelah”, aku mengiyakan.

Kemudian dia menambahkan, “aku punya teman di sekitar sini, dekat. Ia mempunyai toko yang menjual alat-alat berbau elektronik dan digital. Ada aksesoris untuk traveling juga. Mungkin kita bisa melihat-lihat.”

Kami berjalan… tak kunjung sampai kapan. Beberapa kali aku menanyakan dan menagih omongannya yang katanya dekat. Aku sadar bahwa ‘dekat’ dalam kepala kami berbeda. Setengah jam adalah dekat. Itupun jalanku tak sesantai putri solo yang anggun dengan ritme langkah sepadan. Kenyataannya jalan keteteran setengah lari tunggang langgang. Tidak seperti di kampung halaman Indonesia, kemana pun bebas naik kendaraan. Beli pulsa 200meter dari rumah saja pantang jalan kaki wkwk generasi mager. Bayangkan di sini setiap hari. Naik kendaraan umum maupun pribadi pun tak mengubah terlalu banyak. Endingnya, pasti banyak juga jalannya.

Akhirnya yang dinanti pun datang juga. Aku melihat tulisan itu dari kejauhan. Itu dia tokonya. Huwooo.. begitu masuk toko tersebut, aku terkagetkan oleh suara lelaki yang begitu kerasnya.

“Blablablablablabla…,dst”

ben sen evet hayir değil  ………..” semua kata tumpah cepat sekali dalam sebuah obrolan teman lama yang baru -saling- ketemu lagi. Pusing mendengarkan mereka, aku melihat-lihat sekeliling yang di pasarkan di dalam toko tersebut. Percakapan yang tidak terlalu lama itu berakhir. Terima kasih atas sedikit diskon yang diberikan. wkwk.

Matahari sudah terik. Panas menyengat kulit. Waktunya ke desa! Rasanya tidak bisa untuk tidak antusias buat yang satu ini. Desa atau kampung yang letaknya masih jauh dari pusat kota ini. Kupandangi setiap inci jalanan yang terlewati. Kumanjakan mata dengan hamparan pepohonan lebat indah melegakan. Hampir dua jam!

-dua jam kemudian-

Sampai! Hoşgeldiniz5!

Satu persatu aku melihat orang-orang itu. Nyata. Untuk kali ini tidak dari layar semata. Terharu :'')) maafkan ke-alay-an ini. Kalian akan tau bagaimana perasaannya jika kalian benar-benar berada di situasi dan posisi seperti kami.

Capek. Tidak paham waktu. Linglung. Campur campur tidak jelas. Tiba-tiba anne (re:panggilan untuk ibu di Turki) datang ingin mendengarkan ceritaku. Tapi sedetik kemudian niat diurungkan dan diganti dengan sebuah pertanyaan, “kamu mau makan apa?”

Kata yang akan keluar saat itu adalah; soto. Entah kenapa rasanya aku sangat ingin makan soto. “anne buatkan indomie ya..” seketika anne menyahut lamunanku. Lima menit kemudian sepiring indomie sudah berada di depanku. Aku menceritakan bahwa kita bisa makan indomie dengan telur dan sayuran sebagai campuran. Aneh bagi mereka, tapi di lain kesempatan mereka bisa menerima rasanya. Obrolan-obrolan itu… ah aku rindu!

Pemandangan luar masih terang benderang. Waktu menunjukkan pukul enam lebih sekian. Kami keluar menuju ladang. Inilah yang membuatku sedikit girang. Kami akan melihat kambing-kambing ternak di padang rumput yang tengah menguning. Lima belas menit berjalan sampailah pada tempat itu. Sebelumnya, aku sudah bertemu dengan si anjing kecil pengantar kambing. Yap, anjing itulah yang akan menemani belasan kambing-kambing menuju ladang setiap hari meskipun tanpa satu orangpun yang mengawasi. Berangkat pagi, pulang menjelang petang. Anjing itu memang paham betul tugasnya. Ada tiga ladang keluarganya dengan jarak cukup lumayan satu sama lain. Anjing akan memimpin di ladang yang mana mereka seharusnya berada. Ladang satu, dua atau tiga, mereka akan memilih ladang yang banyak rumput sebagai stok makanan. Mengagumkan sekali. Mungkin itu salah satu hal yang belum pernah aku temui selama ini. Anjing yang ‘menggembala’ kambing. Ketika menjelang petang seperti ini, terkadang harus ada orang yang menyusul ke ladang agar kambing-kambing bergegas pulang. Merupakan sebuah pengalaman luar biasa menggiring kambing pulang jam sembilan malam saat mentari bahkan belum tenggelam.

 

Selesai makan malam.

Baba (bapak), anne, amca (paman) dan hala (bibi) terlihat berkumpul asik mengobrol. Rumah paman dan bibi tidaklah jauh sehingga sangat mudah untuk bercakap-cakap tiap malam. Baba menceritakan bahwa aku boleh mengunjungi rumah mereka di Gökçeada6. Awal mula kepindahan mereka ke desa ini karena rencana baba purna kerja dan alasan ingin dekat saudara karena masa kecilnya tertinggal di tempat sini. Sebegitu pensiun beberapa tahun belakangan, baba memutuskan untuk tinggal di desa nenek. Keingintahuanku harus tertunda. Nampaknya akan menjadi cerita yang menarik jika tinggal di sebuah pulau kecil jauh dari keramaian dan kekinian, bukan? Mungkin tidak sekarang. Mungkin nanti, lain kali. Jawabku dengan sadar mengubur segala lamunan karena ada beberapa agenda yang perlu kulakukan dalam kunjungan ke Turki ini. Aku mengenal beberapa orang dari Gökçeada, teman masa kecil mereka. Namun, sebagian besar memang sudah meninggalkan pulau untuk bekerja dan pendidikan. Gökçeada, sebuah kampung halaman masa kecil yang masih menyisakan cerita hangat yang akan dan terus diceritakan keluarga ini.

 

1Laut Aagea : sebuah cabang Laut Tengah, yang letaknya berada antara Yunani dan Anatolia. Laut ini dihubungkan dengan Laut Marmara dan Laut Hitam oleh Selat Dardanella dan Bosporus (Wikipedia)

2 Simit : roti khas turki, bentuk seperti donat (cincin) bertabur wijen di atasnya.

3 Çay : teh turki

4 Poğaça : roti isi khas turki, bisa berisi kentang, zaitun, keju, dll

5 Hoşgeldiniz! : selamat datang

6 Gökçeada=Imroz : pulau di barat turki tepatnya di laut Aagea, masih bagian dari provinsi Çanakkale namun merupakan pulau tersendiri

 

 

Yogyakarta, 2016